Selasa, 16 Desember 2008

TRULY AMAZING ONES.....................

Niy gambar sebenernya dari temen saia, gak tw tuh dia dapatnya dari mana...
tapi yang jelas niy gambar keren banget...
pelukisnya punya ciri khas tersendiri, yaitu mampu membuat lukisan yang jika dilihat dari sudut pandang tertentu lukisannya akan terlihat 3 dimensi...
hiks jadi iri...
keindahannya (Klo saia pribadi siy) gak kalah ma lukisannya monel, rembrandt ma da vinci...

Pelukis tersebut bernama Julian Beever (niy buat yang penasaran ma mukanya :P)



Niy Lukisannya:































Lukisannya om (ato pak, ato mbah mungkin hehehe) Beever sebenarnya punya trik tertentu, contohnya lukisan globe di bawah ini. Lukisan globe ini jika dilihat dari sudut yang menyamping seperti pada potret, akan terlihat seperti lukisan 2 dimensi biasa. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang tertentu akan terlihat 3 dimensi..





































































Semuanya Terlihat 3 Dimensi!!!






































Senin, 15 Desember 2008

MENGAPA WANITA MUDAH MENANGIS.....

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita.""Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."


Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas". Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.


Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"


Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.


Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.


Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.


Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.


Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.


Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan.

Aku Menangis untuk Adikku Sebanyak 6 Kali

"Saia inget dulu pertama kali baca niy cerita, waktu masih SMA kelas 2 (jaman2nya penjajahan :P), niy cerita (menurut saia loh y) sedih banget sampe bikin saia ngangis... tapi dibilang lebay ma temen2 di Asrama hehehehe... tapi beneran koq niy cerita bagus bangeet.... Selamat membaca y..."
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! ” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”
yah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kkalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ” Ada seorang ppenduduk dusun menunggumu di luar sana !” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu.”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit.. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”
Kebaikan sekecil apapun akan memberikan manfaat bagi Anda dan orang yang membutuhkan. Berbahagialah memiliki teman dan saudara yang selalu mendukung Anda. Semoga berbahagia

==== ILLUSIONS====

Telusurilah Gambar Secara Perlahan!!

Anda akan menemukan gambar-gambar yang berbeda, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya...


Which way is up?





























































Jumat, 21 November 2008

IDENTIFIKASI TANAMAN BIDARA

1. Bidara
Nama Spesies : Merremia mammosa (Kitagawa et all, 2007)
Nama Lokal : Bidara Upas, Blanar, Widara Upas, Hailale (IPTEK, 2007)
Synonim : Convolvulus mammosus, Ipomoea mammosa (Kitagawa et all, 2007)
- Deskripsi :
Tumbuh liar di hutan, kadang di tanam di halaman dekat pagar sebagai tanaman obat atau karena umbinya dapat dimakan. Tumbuh dengan baik di daerah tropik dari dataran rendah sampai ketinggian 250 m dpi. Tanaman ini mungkin didatangkan dari Philippine, merupakan tanaman merayap atau membelit yang panjangnya 3-6 m, batangnya kecil bila dipegang agak licin dan warnanya agak gelap. Daun tunggal, bertangkai panjang, berbentuk jantung, tepi rata, ujung meruncing, panjang 5-12 cm, lebar 4-15 cm, warnanya hijau tua. Perbungaan berbentuk payung menggarpu berkumpul 1-4 bunga, bentuknya seperti lonceng berwarna putih, panjang 7-8 cm, dengan 4 helai kelopak. Umbi berkumpul didalam tanah, mirip ubi jalar. Bila tanahnya kering dan tidak tergenang air serta gembur, beratnya dapat mencapai 5 kg atau lebih. Warna kulit umbinya kuning kecoklatan, kulitnya tebal bergetah warna putih, bila kering warnanya menjadi coklat (Medicaholistic,2007).
Menurut IPTEK (2007), Deskripsi Berperawakan pohon atau perdu yang menyemak, tingginya mencapai kira-kira 15 m, tumbuh tegak atau menyebar dengan cabang-cabangnya yang menjuntai; letak rantingnya simpangsiur, berbulu kempa; penumpunya berduri, menyendiri dan lurus (berukuran 5-7 mm) atau berbentuk dimorfik berpasangan, cabang yang kedua lebih pendek dan melengkung, duri kadang-kadang tidak ada; pohonnya selalu hijau atau setengah meranggas. Daunnya tunggal, letaknya berselang-seling, berbentuk bundartelur-jorong sampai bundar-telur-lonjong, berukuran (2-9) cm x (1,5-5) cm, tepinya sedikit beringgit atau rata, berkilap dan tak berbulu pada lembaran sebelah atasnya, berbulu kempa yang rapat, berwarna putih pada lembaran sebelah bawahnya, dengan 3 tulang daun membujur yang nyata; tangkai daunnya 8-15 mm panjangnya. Perbungaannya muncul dari ketiak daun, berbentuk payung menggarpu, panjangnya 1-2 cm, tersusun atas 7-20 kuntum bunga; gagang perbungaan panjangnya 2-3 mm; bunganya berdiameter 2-3 mm, berwarna kekuningan, sedikit harum, gagang bunganya 3-8 mm panjangnya; daun kelopaknya bercuping 5, berbentuk delta, bagian luarnya berambut, bagian dalamnya gundul; daun mahkota 5 helai, sedikit berbentuk sudip yang cekung, terlentik; benang sarinya 5 utas; bakal buahnya beruang 2, tangkai putiknya bercabang dua, cakramnya bercuping 10 atau beralur-alur. Buahnya bertipe buah batu, berbentuk bulat sampai bulat telur, dapat mencapai ukuran 6 cm x 4 cm untuk yang dibudidayakan, dan umumnya jauh lebih kecil untuk yang liar; kulit buahnya halus atau kasar, berkilap, tipis tetapi liat, berwarna kekuningan sampai kemerahan atau kehitaman; daging buahnya berwarna putih, mengeripik (crisp), banyak mengandung sari buah, rasanya agak asam sampai manis, menjadi menepung pada buah yang matang penuh. Bijinya terletak dalam batok yang berbenjol dan beralur tidak beraturan, yang berisi 1-2 inti biji yang berwarna coklat. Kandungan Hasil analisis di India (angka, pertama) dan di Thailand (dalam kurung) merupakan komposisi per 100 g bagian yang dapat dimakan: air 86 (71,5) g, protein 0,8 (0,7) g; lemak 0,1 (1,7) g; karbohidrat 12,8 (23,7) g; Ca 30 (30) m, P 30 (30) mg, vitamin A 70 (50) SI, vitamin C 50-150 (23) mg. Nilai energinya 230 (470) kJ/100 g.
- Habitat :
Bidara merupakan tumbuhan yang dapat mengatasi suhu ekstrem dan mampu bertahan hidup pada lingkungan yang agak kering. Kualitas buahnya akan paling baik jika tumbuh pada lingkungan yang panas, di udara terbuka dan kering, tetapi hendaknya ada musim hujan untuk mendukung pertumbuhan perpanjangan dan pembungaannya, dan idealnya tanahnya memiliki cukup kelembapan untuk mematangkan buahnya. Pada habitat alaminya, curah hujan tahunannya berkisar antara 12 5 mm dan di atas 2.000 m ; suatu penelitian di India menunjukkan bahwa beberapa kultivar akan tumbuh cukup balk pada curah hujan 300-400 mm per tahun. Suhu maksimumnya adalah 37-48° C, dan suhu minimumn 7-13° C, tetapi pohon bidara masih tahan terhadap embun beku yang ringan. Kisaran ketinggian tempat tumbuhnya ialah antara tepi pantai sampai kira-kira 1000 m dpl. Bidara menghendaki tanah yang cukup ringan dan dalam, tetapi pohonnya dapat pula tumbuh di lahan marginal, tanah basa, tanah asin atau sedikit asam, baik tanah ringan maupun berat, rentan terhadap kekeringan atau kadang-kadang tergenang (Garden Guides, 2007).
- Manfaat:
Buah bidara dari kultivar unggul dapat dimakan dalam keadaan segar, atau diperas menjadi minuman penyegar, juga dikeringawetkan, atau dibuat manisan. Di Asia Tenggara, buah yang belum matang dimakan bergara,m. Pernah dilaporkan bahwa buah bidara juga direbus dan menghasilkan sirop. Di Indonesia, daun mudanya diolah sebagai sayuran; daun-daunnya dapat pula dijadikan pakan. Di India, pohon bidara merupakan salah satu dari beberapa jenis tanaman yang digunakan untuk pemeliharaan serangga lak; ranting-ranting yang terbungkus oleh sekresi serangga itu dipungut untuk diproses menjadi sirlak. Kulit kayu dan buahnya menghasilkan bahan pewarna. Kayunya berwarna kemerahan, bertekstur halus, keras, dan tahan lama, dan digunakan sebagai kayu bubut, alat rumah tangga, dan alat-alat lain. Buah, biji, daun, kulit kayu, dan akarnya berkhasiat obat, terutama untuk membantu pencernaan dan sebagai tapal untuk luka. Di Jawa, misalnya, kulit kayunya digunakan untuk menyembuhkan gangguan pencernaan, sedangkan di Malaysia bubur kulit kayunya dapat dimanfaatkan untuk obat sakit perut (IPTEK, 2007).
Tanaman Bidara dapat mengobati penyakit demam, batuk, serak, Difteri, Radang tenggorok, radang paru,; Radang usus buntu, Typhus, sembelit, Muntah darah, Kanker; Kencing manis, Keracunan, gigitan ular, kusta, syphilis (Luns).; bagian yang dipakai untuk pengobatan adalah umbinya untuk mengobati penyakit. Untuk pemakaian luar untuk memperlancar keluarnya air susu ibu (ASI), obat luka terpotong, luka bakar, bengkak, penyakit kulit (Kitagawa et all, 2007).
- Sifat kimia dan kandungan kimia:
Sifat Kimia dan Efek Farmakologis : Anti radang, menghilangkan sakit (analgetik), menghilangkan bengkak, pencahar (laxative), menetralkan racun (antidote), penyejuk.
Kandungan Kimia : Damar, resin, pati, zat pahit. Getah segar mengandung zat oxydase (Anonim, 2005). Dalam pengobatan tradisional, umbi Bidara Upas (M. mammosa (Lour.) Hall.f.) sering digunakan terapi pengobatan kanker. Kandungan zat oksidase pada getah segar Bidara Upas (M. mammosa (Lour.) Hall.f.) juga diduga memiliki peran dalam pengobatan kanker alternatif.
Klasifikasi:

Hirarki = Taxa

Kingdom = Plantae

Divisi = Magnoliophyta

Klass = Magnoliopsida

Ordo = Solanales

Famili = Convolvulaceae

Genus = Merremia

Spesies = Merremia mammosa

PERAN NEUROENDOKRIN PADA DEPRESI

Depresi merupakan suatu penyakit yang berkaitan dengan fungsi otak dan berdampak pada seluruh organ tubuh. Tipe depresi terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Depresi mayor : merupakan depresi tanpa episode manik atau hipomanik

2. Depresi bipolar: merupakan depresi dengan episode manik

Depresi pada orang-orang lanjut usia dapat menyebabkan gangguan koginitif dan memori hingga menyamarkan diagnosis demensia.

Faktor-faktor yang menyebabkan depresi antara lain:
1. Faktor genetik : 60-79% ditemukan pada beberapa anggota keluarga kembar monozigotik
2. Faktor lingkungan : kehilangan orang terdekat dan stres akibat penyakit kronik yang diderita
3. Faktor neurobiologi : gangguan neurohormonal dan gangguan aktivitas aksis hypothalamic pituitary-adrenal limbik

Penelitian tertuju pada fungsi neuron tertentu sebagai penghasil neurotransmiter yang akan berkorelasi dengan depresi. Penenelitian memfokuskan pada areal yang berperan dalam perilaku yang berkaitan dengan sistem limbik, dimana sistem limbik berperan dalam pengaturan keseimbangan emosi dan fisik.

Hasil penelitian postmortem dan imaging menemukan dua jalur anatomi dimana gangguan pada sirkuit ini akan memperlihatkan gangguan dalam mengatur emosi.
Sirkuit I: Sirkuit limbik – talamik – kortikol, termasuk amigdala, nucleus media dorsalis dari talamus dan bagian ventrolateral dari korteks prefrontal.
Sirkuit II: Sirkuit limbik – striatal – palidal – talamik – kortikal

Struktur lain dalam sistem limbik yang berperan dalam reaksi emosi, yaitu amigdala dan hikampus, serta hipotalamus.

Di dalam otak, hypothalamic – pituitary – adrenal (HPA) dikenal sebagai pengatur sistem neuroendokrin, metabolisme serta gangguan perilaku. Mekanisme dari aksis HPA melibatkan 3 komponen, yaitu CRH, ACTH, dan Kortisol.
Pada penderita depresi, terjadi kenaikan aktivitas dari aksis HPA karena adanya reduksi jumlah maupun fungsi reseptor kortisol sehingga keseimbangan neuroendokrin terganggu. Penyebab lain yang diperkirakan mengakibatkan depresi adalah adanya gangguan pengaturan keseimbangan serotonin.
Dalam strategi penanggulangan mendasar pada gangguan keseimbangan neuroendokrin/ neurotransmiter di otak. Obat-obat yang digunakan sedapat mungkin mempunyai efek maksimal terhadap penanggulangan ketidakseimbangan tadi dan berefek negatif yang minimal terhadap metabolisme organ-organ tubuh baik korelasi sesama neurotransmiter lainnya demikian juga efek terapi terhadap terjadinya relapses. Contoh obat-obatan yang baik dalam penanggulangan depresi adalah fluoxetine, yang dapat memberikan efek terapeutik yang sangat maksimal dan efek negatif yang minimal terhadap gangguan organ di luar otak termasuk metabolisme dan neurotransmitter seperti kholinergik.

ELANG JAWA

Elang Jawa dengan nama ilmiahnya Spizaetus bartelsi adalah burung asli Indonesia. Usaha mengidentifikasi elang ini terus dilakukan pada tahun 1924, Prof Dr E Stresemann seorang pakar burung dari Jerman memperkenalkan jenis ini Burung ini termasuk spesies elang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 60 cm dengan jambul menonjol. Pada Elang Jawa dewasa terdapat jambul, mahkota dan garis kumis hitam; bagian sisi kepala dan tengkuk merah coklat; punggung dan sayap coklat gelap; ekor coklat bergaris-garis hitam; kerongkongan putih dengan bagian tengah bergaris-garis hitam. Sedangkan bagian bawah lainnya keputih-putihan bergaris merah sawo matang. Burung yang belum dewasa keputih-putihan atau kemerah-merahan pada bagian bawahnya dan tanpa garis atau coretan. Ditemukan pula bentuk peralihan. Biasanya pada Elang Jawa paruhnya berwarna kehitam-hitaman dan kakinya tidak berbulu Spesies ini termasuk yang terancam punah secara global karena diperkirakan tinggal 600 – 900 ekor.
Elang Jawa paling sering dijumpai pada ketinggian antara 500 m – 1500 m di atas permukaan permukaan laut (dpl) dan di hutan alam (48%) dari pada hutan tanaman. Elang Jawa menyukai pohon yang tinggi menjulang, sehingga dapat digunakan untuk mengincar mangsa ataupun sebagai sarang. Ia biasanya melakukan hal-hal tersebut di pohon Rasamala (Altingia excelsa), Litocarpus, Quercus, Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima Wallichi), Saninten (Castaopsis agentea), Hantap (Streculia sp.), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Ipis Kulit (Acmena acuminat issima), dan Manglid (Magnolia blurnei). Karena, pada umumnya pohon-pohon tersebut mempunyai ukuran tinggi dan bentuk dahan yang strategis untuk sarang Elang Jawa.Pada umumnya, sarang Elang Jawa ditemukan di lereng dengan kemiringan sedang sampai curam pada ketinggian tempat di atas 800 m dpl, dengan dasar lembah memiliki anak sungai. Hal ini berkaitan dengan besarnya kesempatan untuk memperoleh mangsa dan memelihara keturunannya.
Daya jelajah Elang Jawa sangat bervariasi, antara 2 km2 – 20 km2. Berdasarkan survei yang dilakukan Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL) di Gunung Jagat dengan luas 1.26 km2 dijumpai sekitar satu pasang Elang Jawa. Sedangkan di Cagar Alam Gunung Simpang dengan luas 150 km2 dijumpai sekitar enam pasang. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Elang Jawa memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik.
Elang Jawa juga banyak ditemukan di hutan-hutan lebat seperti di Gunung Muria, Gunung Merapi, Gunung Slamet, Gunung Unggaran, Gunung Tangkuban Perahu dan sejumlah tempat lainya. Yang membedakan sosok eksotis Elang Jawa dengan jenis elang lainya seperti elang Brontok Intermediate (Spizaetus cirrhatus), Elang Hitam (Ictynaetus malayensis), dan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) adalah dua jambul yang mendongak di atas kepala burung dan bulu primer yang selalu menutup sehingga menghasilkan pola loreng di tubuhnya.
Rata-rata, burung raptor jarang mempunyai anak atau kalaupun ada anaknya pun snagat sedikit. Demikina juga dengan elang jawa yang berkemabang biak setiap dua tahun sekali dengan anak yang umumnya hanya satu ekor. Elang Jawa berkembang biak pada umur 3-4 tahun dengan masa mengerami 44-48 hari. Musim kawin pada Elang Jawa terjadi biasanya antara akhir bulan Januari hingga Mei. Pada anak Elang Jawa, umur 27-30 minggu atau 7 bulan telah dapat terbang dan mulai belajar mematikan mangsa. Pada usia tersebut ia telah dapat membuat delapan variasi suara, sehingga ia dapat melakukan komunikasi dengan baik.
Pada umumnya, elang jawa memangsa satwa yang mudah ditemukan seperti jenis tupai (Callosciurus sp dan Tupai sp), anak Kera Ekor Panjang (Macaca fascucularis), Jalarang (Ratufa bicolor), dan burung-burung kecil lainya. Selama ini, Elang Jawa tidak pernah terlihat mengejar mangsa di udara, karena ruas kaki Elang Jawa terlalu pendek, sehingga tidak mampu menangkap mangsa yang dapat terbang di udara.
Elang Jawa berkembang biak sangat sedikit. Selain itu, ia merupakan mata rantai makanan yang tertinggi. Jadi, ia dapat dijadikan sebagai indikator bagi kelestarian lingkungan. Apabila Elang Jawa berkurang atau punah, itu artinya lingkungan telah mengalami kerusakan. Seperti menurunnya daya dukung sistem penyangga kehidupan dengan terjadinya longsor, banjir, kekeringan, iklim mikro yang buruk, dan yang sedang kita rasakan adalah musim yang tidak menentu).